LAHIRKAN PAHLAWAN



LAHIRKAN PAHLAWAN
Karya : Ruslan Syeh Abdullah


Lahirkan cinta dilautan luas
Walau gelora gelombang menghempas kapal negeri
Petir menggelagar,
badai menerjang
hujan mengguyur deras

Lahirkan cinta pada daratan tandus
Tanah kering kerontang
Kemarau berkepanjangan
Sungai tinggal bongkahan bebatuan dan kubangan ulat-ulat air
Pepohonan mengering,
daun dan buah berjatuhan sebelum ranum

Lahirkan cinta ditengah keperihatinan
Lahirkan cinta di sana

Dan pecinta sejati , ia akan berayun ditengah gelorah gelombang lautan yang menghempas diiringi dentuman guntur dan petir menghias serta ditemani canda hujan menguyur deras.
Pencinta sejati  akan  mengucurkan keringat deras membasahi tanah tandus alirkan sungai-sungai di hatimu hingga dedaunan rimbun dan buahpun akan masak pada waktunya.
Karena besarnya cinta diukur dari karya menghalau derita

Lahirkan cinta
Karena pahlawan lahir dari cinta
Lahirkan cinta
Lahirkan pahlawan.

 Barru,10 November 2014

COLLIQ PUJIE

COLLIQ PUJIE

Kutelusuri jalan tak berjejak
Yang dulu perna engkau lalui
Tapak kaki telah lenyap di negerimu sendiri
Entah oleh panasnya mentari
Atau derasnya hujan
Atau tertiup angin
Atau...
Oleh siapa...?

Aku mencintaimu
Seperti  cinta Larumpa Megga Dulung lamuru
Menerobos rumpa tanete
Menggayut cinta

Aku mencintaimu
Seperti cinta We Tenri Yolle Datu Tanete
Menghamparkan permadani perjanjian
Di atas bumi Tanete
Untuk tidak saling menghianati

Aku mencintaimu
Seperti Wegading arung atakka
Seperti  cinta Imakkawaru indera putra arung ujung
Menanggalkan kebesaran
Mengejar cinta

Di sini aku adalah diriku sendiri
Mencitaimu
Seperti aku mencintai tanah ini.

Barru, 2003




SENJA DI PANTAI PANCANA



SENJA DI PANTAI PANCANA

Karya : Ruslan Syeh Abdullah

Di pantai pancana menatap senja
Merah kemilau mewarnai laut
 Debur   ombak tiada henti
Segala bayang semakin memudar
Jelang  malam mengganti siang

Jolloro menari di iringi irama pantai
Angin berhembus kabarkan aroma laut
Camar sesekali terbang mengitari Putianging
Memberi salam pada ratu malam.

Wangi awu-awu- bakar menusuk kenangan
Hanyutkan ke dermaga hayal
Akan jumpa srikandi pejuang
Dalam sukmaku terpatri namamu
Colliq pujie, matahari Pancana.

Pancana, 10 Juni 2011


SENJA DI PANTAI PANCANA



SENJA DI PANTAI PANCANA

Karya : Ruslan Syeh Abdullah

Di pantai pancana menatap senja
Merah kemilau mewarnai laut
 Debur   ombak tiada henti
Segala bayang semakin memudar
Jelang  malam mengganti siang

Jolloro menari di iringi irama pantai
Angin berhembus kabarkan aroma laut
Camar sesekali terbang mengitari Putianging
Memberi salam pada ratu malam.

Wangi awu-awu- bakar menusuk kenangan
Hanyutkan ke dermaga hayal
Akan jumpa srikandi pejuang
Dalam sukmaku terpatri namamu
Colliq pujie, matahari Pancana.

Pancana, 10 Juni 2011


PUISI SECAWAN AIR



PUISI SECAWAN AIR
Karya Ruslan Syeh Abdullah

Secawan air kuteguk
Dan kusaksikan peluh bercucuran
Bagai hujan di pelataran lembah
Mengalir deras hingga membuat keruh permukaan sungai
Menuju  laut yang menghempaskan ombak ketepian pantai
Seperti kemarahan yang terpendam menahun.

Dan lihatlah ..!!
Para nelayan sibuk menyelamatkan kapal
Dan menghitung tabungan tersisah untuk makan hari ini.
Sementara harga kebutuhan membubung tinggi
Bah ombak di lautan yang tak mampu diarungi

Esok hari
Laut meredah berganti gejolak jiwa
Dan ombak berkecamuk di rumah-rumah para nelayan
Hingga retak dan pecah bahkan patah
Piring dan kaca
Serta  pinsil anak sekolah.

Bojo, 27 Januari 2015
(workshop Ihya)